Perkembangan Layanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia

 

Masa ini merupakan masa penjajahan Belanda dan Jepang, para siswa dididik untuk mengabdi demi kepentingan penjajah. Dalam situasi seperti ini, upaya bimbingan dikerahkan. Bangsa Indonesia berusaha untuk memperjuangkan kemajun bangsa Indonesia melalui pendidikan. Salah satunya adalah taman siswa yang dipelopori oleh K.H. Dewantara yang menanamkan nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut pandang bimbingan, hal tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan bimbingan.

Dekade 40-an

Dalam bidang pendidikan, pada decade 40-an lebih banyak ditandai dengan perjuangan merealisasikan kemerdekaan melalui pendidikan. Melalui pendidikan yang serba darurat maka pada saat itu di upayakan secara bertahap memecahkan masalah besar anatara lain melalui pemberantasan buta huruf. Sesuai dengan jiwa pancasila dan UUD 45. Hal ini pula yang menjadi focus utama dalam bimbingan pada saat itu.

Dekade 50-an

Bidang pendidikan menghadapi tentangan yang amat besar yaitu memecahkan masalah kebodohan dan keterbelakangan rakyat Indonesia. Kegiatan bimbingan pada masa dekade ini lebih banyak tersirat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan benar benar menghadapi tantangan dalam membantu siswa disekolah agar dapat berprestasi.

Secara umum, konsep bimbingan dan konseling telah lama dikenal manusia melalui sejarah. Sejarah tentang pengembangan potensi individu dapat ditelusuri dari masyarakat yunani kono. Mereka menekankan upaya-upaya untuk mengembangkan dan menguatkan individu melalui pendidikan. Plato dipandang sebagan koselor Yunani Kuno karena dia telah menaruh perhatian besar terhadap masalah-masalah pemahaman psikologis individu seperti menyangkut aspek isu-isu moral, pendidikan, hubungan dalam masyarakat dan teologis.

Layanan BK di industri Indonesia telah mulai dibicarakan sejak tahun 1962. ditandai dengan adanya perubahan sistem pendidikan di SMA yakni dengan adanya program penjurusan, program penjurusan merupakan respon akan kebutuhan untuk menyalurkan siswa kejurusan yang tepat bagi dirinya secara perorangan. Puncak dari usaha ini didirikan jurusan Bimbingan dan penyuluhan di Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Negeri, salah satu yang membuka jurusan tersebut adalah IKIP Bandung (sekrang berganti nama Universitas Pendidikan Indonesia).

Dengan adanya gagasan sekolah pembangunan pada tahun 1970/1971, peranan bimbingan kembali mendapat perhatian. Gagasan sekolah pembangunan ini dituangkan dalam program sekolah menengah pembangunan persiapan, yang berupa proyek percobaan dan peralihan dari sistem persekolahan Cuma menjadi sekolah pembangunan.

Sistem sekolah pembangunan tersebut dilaksanakan melalui proyek pembaharuan pendidikan yang dinamai PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) yang diujicobakan di 8 IKIP. Badan pengembangan pendidikan berhasil menyusun 2 naskah penting yakni dengan pola dasar rencana-rencana pembangunan program Bimbingan dan penyuluhan melalui proyek-proyek perintis sekolah pembangunan dan pedoman operasional pelayanan bimbingan pada PPSP.

Secara resmi BK di programkan disekolah sejak diberlakukan kurikulum 1975, tahun 1975 berdiri ikatan petugas bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang.

Penyempurnaan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir di dalamnya. Selanjutnya UU No. 0/1989 tentang Sisdiknas membuat mantap posisi bimbingan dan konseling yang kian diperkuat dengan PP No. 20 Bab X Pasal 25/1990 dan PP No. 29 Bab X Pal 27/1990 yang menyatakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.

Perkembangan BK di Indonesia semakin mantap dengan berubahnya 1 PBI menjadi ABKIN (Asuransi Bimbingan dan Konseling Indonesia) tapa tahun 2001. Layanan bimbingan di Indonesia dimulai dari kegiatan di sekolah-sekolah lalu menjadi perhatian pemerintah dan akhirnya sekarang menjadi usaha pemerintah Indonesia sebagai buktinya layanan bimbingan pun diatur dalam undang-undang Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003.

Sistem Pendidikan Nasional, sebutan untuk guru pembimbing dimantapkan menjadi “Konselor.” Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6). Pengakuan secara eksplisit dan kesejajaran posisi antara tenaga pendidik satu dengan yang lainnya tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting layanan spesifik yang mengandung keunikan dan perbedaan.

Keberadaan profesi konselor di Indonesia memang sudah diakui secara undang – undang, tetapi hal itu tidak dibarengi dengan pengertahuan masyarakat tentang profesi konselor. Di luar sana masih banyak orang yang kebingungan jika ditanya tentang profesi konselor. Mereka bingung bukan karena sulit membedakan sesuatu, tetapi lebih karena mereka tidak tahu apa itu konselor. Profesi yang mereka tahu hanyalah dokter, guru, petani, dan lain – lain. Hal ini mungkin disebabkan karena masyarakat belum begitu merasakan manfaat dari adanya profesi konselor ini. Tentu hal ini bisa sedikit dimaklumi karena profesi konselor muncul baru sekitar tahun 1960an. Tidak seperti profesi lain yang sudah ada sejak dulu sehingga masyarakat lebih mengenal profesi yang lain tersebut. Namun jika kita melihat lebih dalam lagi, 40 tahun bukanlah waktu yang sedikit. Selama waktu itu seharusnya sekarang ini konselor sudah menjadi suatu profesi yang diakui oleh pemerintah dan masyarakat. Dengan kata lain, perkembangan profesi konselor di Indonesia terbilang lambat.

Periode pergerakan Bimbingan Konseling di Indonesia

Periode

Peristiwa

Periode I II

Pra wacana dan Pengenalan

(1960 – sampai 1970–an)

Berpuncak pada dibukanya jurusan Bimbingan dan Penyuluhan pada tahun 1963 di IKIP Bandung sekarang UPI. Sampai pada akhirnya diluluskan sarjana BP dan memperkenalkan perlu adanya layanan BP kepada masyarakat akademik dan pendidik.

Periode III

Pemasyarakatan (1970 sampai 1980-an)

Diberlakukan kurikulum 1975. Pada tahun ini dibentuk organisasi profesi BP dengan nama IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia). Pada periode ini ditandai juga dengan pemberlakuan kurikulum 1984, layanan BP difokuskan pada bidang bimbingan karir. Pada periode ini muncul beberapa permasalahan seperti (1) berkembangnya pemahaman yang keliru, yang mengidentikkan bimbingan karir (BK) dengan bimbingan penyuluhan (BP), sehingga muncul istilah BK/BP, (2) kerancuan dalam mengimplementasikan SK Menpen No. 26/Menpen/1989 terhadap penyelenggaraan layanan bimbingan di sekolah.

Periode IV

Konsolidasi (1980 – 2000)

Pada periode ini IPBI berusaha keras untuk mengubah kebijakan bahwa pelayanan BP itu dapat dilaksanakan oleh semua guru, ditandai oleh (1) diubahnya secara resmi kata penyuluhan menjadi konseling: istilah yang dipakai sekarang adalah bimbingan konseling/BK, (2) pelayanan BK di sekolah hanya dilaksanakan oleh guru pembimbing yang secara khusus ditugasi untuk itu, (3) mulai diselenggarakan penataran (nasional dan daerah) untuk guru-guru pembing, (4) mulai adanya formasi untuk pengangkatan menjadi guru pembimbing, (5) pola pelayanan BK di sekolah “dikemas? Dalam “BK pola 17”, dan (6) dalam bidang kepengawasan sekolah dibentuk kepengawasan bidang BK, (7) dikembangkan sejumlah penaduan pelayanan BK di sekolah yang lebih operasional oleh IPBI

Periode V

Lepas landas

Setelah tahun 2001 terdapat beberapa peristiwa yang dapat dijadikan tongkat bagi pengembangan profesi konseling menuju era lepas landas, yaitu : (1) penggantian nama organisasi IPBI menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan Konseling), (2) lahirnya undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang di dalamnya termuat ketentuan bahwa konselor termasuk salah satu jenis tenaga pendidik (Bab 1 Pasal 1 Ayat 4), (3) kerjasama pengurus besar ABKIN dengan Dikti Depdiknas tentang standarisasi profesi konseling, (4) kerjasama ABKIN dengan Direktorat PLP dalam merumuskan kompetensi guru pembimbing (konselor).

Dalam konteks pendidikan seutuhnya, layanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan suatu hal yang esensial. Danne Borders & Sandra M. Drury dalam Yusuf (1995: 66), menyatakan bahwa “intervensi bimbingan dan konseling mempunyai dampak substansial terhadap perkembangan pribadi dan pendidikan siswa. Kendatipun demikian harus pula disadari bahwa produk pendidikan yang dihasilkan secara maksimal bukanlah semata-mata hasil bimbingan dan konseling, akan tetapi paling tidak keberadaan layanan bimbingan dan konseling memegang peranan yang cukup berarti dalam keseluruhan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, dapat dipahami upaya memfasilitasi perkembangan siswa, harus dilakukan secara sinergis antara pendekatan pembelajaran (instructional approach) dengan pendekatan bimbingan konseling (psycho-educational approach).

Arthur J. Jones (1963: 8), mengemukakan bahwa “apabila dalam suatu proses pendidikan, individu yang bersangkutan menentukan sendiri perubahan bagi dirinya atau membuat perubahan bagi dirinya sendiri, maka bimbingan tidak ada, sebab individu yang bersangkutan mendidik dirinya sendiri, tetapi kalau pendidik itu membantu individu untuk memilih, maka bimbingan baru ada”.
Permasalahan dalam penyelenggaraan program bimbingan dan konseling sampai saat ini adalah sebagai berikut : ( Syamsu Yusuf & Juntika Nurihsan.2005 : 100-101)

Masih terdapat kesenjangan rasio konselor (guru pembimbing) dengan jumlah sekolah dan jumlah peserta didik di setiap jenjang pendidikan.

1. Dampak dari kesenjangan dari jumlah konselor dan jumlah sekolah atau jumlah peserta didik adalah : (1) di sekolah-sekolah tertentu tidak ada guru pembimbing, (2) di sekolah tertentu terdapat guru pembimbing walaupun tidak sesuai dengan jumlah peserta didik di sekolah tersebut, (3) untuk menutupi kekurangan guru pembimbing,tidak jarang kepala sekolah mengangkat guru bidang studi untuk menjadi guru bimbingan konseling.

2. Pengangkatan guru bidang studi menjadi guru pembimbing du satu sisi memberikan impresi positif bagi penyelenggaraan program BK di sekolah, karena ada kepedulian kepala sekolah terhadap program BK. Namun di sisi lain kebijakan tersebut memberikan dampak yang kurang baik bagi profesi bimbingan yaitu melahirkan citra buruk bagi profesi bimbingan dan konseling itu sendiri, karena dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki keahlian tentang BK

3. Meskipun bimbingan dan konseling dipandang sebagai kegiatan professional, namun secara hokum belum terproteksi oleh standar kode etik yang kokoh, yang dapat memberikan jaminan bahwa hanya lulusan pendidikan konselor yang bias mengemban tugas atau memberikan layanan bimbingan konseling

4. Bimbingan konseling masih belum familier di kalangan masyarakat. Populasinya masih terbatas dalam komunitas tertentu, dan di lingkungan (yaitu sekolah) yang seyogyanya sudah akrab dan apresiatif terhadap BK

5. Masih ada kepala sekolah yang belum memahami secara tepat program bimbingan dan konseling di sekolah, sehingga akhirnya mereka suka memberikan tugas kepada guru pembimbing mismatch, tidak proporsional atau tidak sesuai dengan peran yang sebenarnya. Sehingga guru pembimbing diberi tugas dengan kegiatan yang bersebrangan

6. Citra bimbingan konseling semakin diperburuk dengan masih adanya guru pembimbing yang kinerjanya tidak professional, masih lemah dalam : (a) memahami konsep-konsep bimbingan secara komprehensif, (b) menyusun program bimbingan dan konseling, (c) mengimplementasikan teknik-teknik bimbingan dan konseling, (d) kemampuan berkolaborasi dengan pimpinan sekolah atau guru mata pelajaran, (e) mengelola bimbingan dan konseling, (f) mengevaluasi program (proses dan hasil) bimbingan dan konseling dan melakukan tindak lanjut (follow up) hasil evaluasi untuk perbaikan atau pengembangan program, dan (g) penampilan kualitas pribadinya yaitu dinilai masih kurang percaya diri, kurang ramah, kurang kreatif, kurang koopratif dan kolaboratif.

7. LPTK yang menyelenggarakan pendidikan bagi calon guru pembimbing (konselor) masih belum memiliki kurikulum mantap untuk melahirkan konsselor professional

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s